Info Sekolah
Minggu, 29 Mar 2026
  • PKBM MERAH PUTIH KOTA MAKASSAR Menyelenggarakan Program Pendidikan Kesetaraan PAKET A Setara SD/MI - PAKET B Setara SMP/Mts - PAKET C Setara SMA/SMK/MA
  • PKBM MERAH PUTIH KOTA MAKASSAR Menyelenggarakan Program Pendidikan Kesetaraan PAKET A Setara SD/MI - PAKET B Setara SMP/Mts - PAKET C Setara SMA/SMK/MA

Mengapa Tes Kemampuan Akademik (TKA) Penting bagi Pendidikan Kesetaraan di Indonesia?

Terbit : Senin, 26 Januari 2026 - Kategori : ARTIKEL PENDIDIKAN

TKA dan Pendidikan Kesetaraan: Meneguhkan Mutu Pendidikan Nonformal di Indonesia

Oleh: Rintoh Rachim (Pemerhati Pendidikan Kesetaraan / Pendidikan Nonformal)

Sebagai pemerhati Pendidikan Kesetaraan dan Pendidikan Nonformal di Indonesia, saya memandang bahwa upaya peningkatan mutu tidak dapat lagi ditunda. Pendidikan Kesetaraan—melalui Paket A, B, dan C—bukan sekadar jalur alternatif, melainkan bagian utuh dari sistem pendidikan nasional yang memegang peran strategis dalam mewujudkan keadilan pendidikan. Dalam konteks inilah, Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi instrumen yang penting dan relevan untuk memastikan mutu dan pengakuan kompetensi warga belajar.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa warga belajar Pendidikan Kesetaraan berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Mereka adalah pekerja, orang tua, pencari nafkah, hingga anak-anak yang terputus dari pendidikan formal. Namun keberagaman tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan standar mutu. Justru sebaliknya, negara berkewajiban menghadirkan mekanisme penilaian yang adil dan bermakna. TKA hadir sebagai alat ukur objektif yang menilai kemampuan literasi, numerasi, dan penalaran—kompetensi dasar yang dibutuhkan setiap warga negara.

Saya meyakini bahwa TKA bukanlah bentuk penyeragaman yang menafikan kekhasan Pendidikan Nonformal. Sebaliknya, TKA dapat menjadi alat pemetaan kemampuan yang membantu satuan pendidikan kesetaraan memahami kebutuhan nyata warga belajar. Dengan hasil TKA, pembelajaran dapat dirancang lebih adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan kompetensi esensial, bukan sekadar mengejar kelulusan administratif.

Lebih dari itu, TKA juga berfungsi sebagai sarana untuk mengangkat martabat Pendidikan Kesetaraan. Selama ini, masih terdapat stigma bahwa lulusan pendidikan nonformal berada di bawah pendidikan formal. Padahal, jika kompetensi mereka diukur secara setara dan transparan, stigma tersebut tidak memiliki dasar yang kuat. TKA memberikan legitimasi akademik bahwa lulusan Paket A, B, dan C memiliki kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai pemerhati pendidikan, saya juga melihat TKA sebagai instrumen refleksi bagi penyelenggara dan pemangku kebijakan. Data TKA dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas pembelajaran, meningkatkan kapasitas tutor, serta memperbaiki tata kelola PKBM dan satuan pendidikan nonformal lainnya. Dengan demikian, kebijakan pendidikan kesetaraan tidak lagi berbasis asumsi, melainkan berbasis data dan kebutuhan riil.

Pada akhirnya, saya berpandangan bahwa Tes Kemampuan Akademik harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar transformasi Pendidikan Nonformal di Indonesia. Selama TKA dilaksanakan secara inklusif, adil, dan berorientasi pada pengembangan potensi warga belajar, maka TKA akan menjadi jembatan penting menuju pendidikan yang bermutu, berkeadilan, dan bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar